Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Masjid Sebagai Tempat ibadah, Moment atau Fatamorgana?

Oleh : Meina Tursia '10


Image : saidfirman.wordpress.com
Dari segi bahasa, istilah masjid diambil dari akar kata sajada-sujud yang berarti patuh, taat, serta tunduk dengan penuh hormat dan takzim. Dalam pengertian sehari-hari kita memaknai masjid sebagai suatu bangunan yang berlantai, mempunyai atap dan tiang-tiang penyangga yang berfungsi sebagai tempat ibadah, tempat kegiatan keagamaan dan sosial lainnya yang mencerminkan kepatuhan kepada Sang Khaliq.



Bagi umat Islam di seluruh penjuru, masjid merupakan bagian yang terpenting dalam kehidupan masyarakatnya. Hampir dapat dikatakan dimana ada komunitas Muslim, disitu ada masjid. Dengan demikian, masjid menjadi pangkal tempat Muslim bertolak sekaligus pelabuhan tempatnya berlabuh. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat melaksanakan ibadah semata, namun juga dipergunakan untuk sarana belajar, tempat berkumpul dan bertukar pengalaman, pusat kebudayaan Islam, pusat kaderisasi umat dan sebagai basis kebangkitan dan perjuangan Islam. 

Peranan Wanita Dalam Dunia Kerja

Oleh : Putra Rizki Youlan Radhianto

Studi Kasus di Gampong Lambaro

Images by google

Gampong Lambaro merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar. Gampong Lambaro ini merupakan salah sentra perdagangan terbesar di kabupaten ini. Terlihat dari tingginya proses jual beli di daerah ini dan juga pembangunan pertokoan yang terus berlangsung dari hari ke hari.
Walaupun secara umum pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan itu sama di beberapa daerah di Indonesia, namun dari pengamatan ini kami menemukan hal yang berbeda, disini kami melihat bahwa laki-laki memiliki peranan yang lebih dari perempuan dalam hal berdagang.

Gara-gara Pesona“manoek teu pheh”

Oleh : Meina Thursia '10

Image by google


Perkembangan rumah makan dengan menu utama “manoek” di Provinsi ini semakin pesat. Diolah dalam beraneka jenis hidangan yang menggugah selera, sebut saja manoek teu pheh, manoek drop, manoek lheuh, dan sebagainya, telah menjadi andalan bagi banyak kalangan.

Para pemilik rumah makan tersebut tentunya melakukan berbagai cara untuk memperoleh laba besar dalam penjualan produknya. Lewat pasar online misalnya,

Menyoal Pajak Nanggroe dalam Pembangunan Aceh


Oleh Ramadhan '10

Sumber : http://ekypradhana.wordpress.com

    Sebenarnya permasalahan yang dihadapi Aceh saat ini di dalam pembangunan adalah hanya mengedepankan pembangunan infrastruktur saja, tanpa membangun masyarakat Aceh sendiri (dalam sosio cultural –ekonomi) dan juga lingkungan. Dan yang paling fatal lagi setiap pembangunan infrastruktur di Aceh selalu ada lobi politik dalam menentukan proyek-proyek pembangunan infrastruktur. Ketika pembangunan  dimulai pun selalu harus ada Pajak Nanggroe yang wajib di bayarkan oleh pihak rekanan kepada sejumlah oknum-oknum tertentu dan ini merupakan penghambat pembangunan di Aceh.

Stratifikasi Sosial Masyarakat Aceh


Oleh : Ramadhan '10

Gambar : meukeutop.blogspot.com
Dasar-dasar stratifikasi sosial.

Dalam suatu masyarakat akan terdapat golongan paling atas yang disebut dengan lapisan elite. Dan lapisan paling bawah disebut dengan lapisan biasa atau orang kebanyakan. Antara lapisan atasan dan lapisan bawahan kadang-kadang terdapat lagi beberapa lapisan seperti yang terdapat pada masyarakat Aceh. Masyarakat Aceh pada zaman kerajaan dahulu dapat dibagi ke dalam:

Ureung Aceh dan Sistem Sosialnya


Oleh : Putra Rizki Youlan Radhianto '11

 
Aktifitas di halaman Mesjid Raya Baiturrahman pada Abad ke-19


Masyarakat Aceh adalah masyarakat yang di kenal dengan kekentalan agamanya . Aceh juga di kenal dengan sebutan Serambi Mekkah yang sangat kaya dengan mesjid-masjid yang megah. Bagi masyarakat Aceh agama sangat berperan penting sebagai sarana pemersatu dan menjadi rujukan masyarakat ketika kehilangan arah. Dengan demikian , agama memiliki daya konstruktif,regulatif dan formatif dalam membangun tatanan hidup masyarakat Aceh.
Bagi orang Aceh agama itu telah di jadikan indikator yang mampu membentuk satu kesatuan sosial yang kuat di dalam masyarakat, terutama bagi yang berdomisili di desa-desa. Orang Aceh umumnya selalu patuh pada perintah-perintah Allah dan Rasul-nya. Mereka meyakini bahwa ajaran Islam akan menyejahterakan mereka di  dunia dan di akhirat kelak.

Diskriminasi Pengguna Blackberry

Oleh Alfath Asmunda '10
Ilustrasi oleh google


Blackberry, hampir seluruh manusia di muka bumi ini mengetahui alat komunikasi yang banyak di gandrungi orang tua, kawula muda, bahkan anak-anak sekalipun. Blackberry sebuah alat komunikasi modern yang tujuan pemakaiannya pun sama seperti jenis-jenis handphone (telepon genggam) biasanya, “hanya untuk memudahkan berinteraksi satu individu dengan individu yang lainnya”. Tapi blackberry, dengan embel-embel fitur yang sangat menggugah selera untuk memilikinya menghadirkan nuansa berbeda dengan handphone lain yaitu dari kemampuannya yang “smart”. 

Blackberry adalah handphone di masa modern dengan berbagai fitur pendukung yang canggih dalam memudahkan manusia mengakses apa pun yang di inginkan. Disamping itu dengan kelebihan BBM (blackberry messenger)-nya yang sangat memudahkan para pemakainya untuk berbagi pesan teks, berbagi voice note (pesan suara), berbagi gambar, berbagi video, semakin membuat blackberry banyak di buru para manusia yang haus akan teknologi. Pokoknya, alat dari bangsa “barat” yang di ciptakan oleh Mike Lazaridis dan diperkenalkan pada tahun 1999 oleh perusahaan Kanada, Research In Motion (RIM) telah menjadi semacam kebutuhan akan tuntutan hidup di zaman modern ini.

Tak ayal, manusia yang belum punya blackberry di anggap kuno, kampungan, atau kata-kata yang lebih pedih di balik kata kuno, serta kampungan yang di lafadzkan para pengguna blackberry terhadap orang yang belum memiliki handphone canggih tersebut adalah, “kalian belum pantas hidup di zaman modern kalau belum memiliki blackberry”. PUNGO !!!

Saya pribadi yang belum memiliki blackberry merasakan memang betul adanya “diskriminasi komunikasi” terhadap orang yang belum memiliki blackberry. Ini pengalaman saya, yang masih memakai handphone biasa suatu ketika menghubungi teman yang memakai blackberry lewat sms untuk menanyakan perihal yang penting, teman saya itu tidak menggubris pertanyaan saya yang Cuma hanya lewat sms tersebut. suatu ketika saat saya sedang ngopi dengan teman yang memiliki blackberry, teman tersebut sibuk memainkan jempolnya untuk membalas suara-suara dari balik loudspeakers blackberrynya yang lebih kurang terdengar seperti ini “PING.. PING.. PING..” yang saban menit berbunyi. Dalam hati saya bergumam, secepat itu kah teman ini membalas pertanyaan yang masuk ke blackberrynya? Seberapa pentingkah pertanyaan tersebut hingga ia menghentikan percakapan kami di warung kopi lalu sibuk dengan blackberry yang “nyinyir” tersebut? Lalu, kenapa pertanyaan saya yang melalui sms enggan di tanggapi secepat itu?

Usut punya usut, dan mendengar keluh kesah dari teman yang senasib juga dengan saya yang tidak memiliki blackberry, ternyata para pengguna blackberry yang enggan membalas komunikasi kami yang bukan dari BBM tersebut adalah karena para pengguna blackberry telah menghabiskan pulsa handphone-nya untuk membeli paket atau pun telah habis karena keasikan browsing internet. Saya pernah bertanya kepada teman yang mempunyai blackberry kenapa ia jarang untuk membalas sms dari saya, lalu jawabannya persis seperti yang saya dapati dari teman-teman yang mempunyai keluh kesah yang sama dalam mengalami hal pendiskriminasian informasi terhadap orang tidak memiliki blackberry,… “aku nggak ada pulsa bro, semalam sudah habis membeli paket BB”… duuhh..!!!!!

Saya pun juga sedikit bertanya-tanya dalam hati tentang prilaku orang ber-BB yang sudah cukup aneh-aneh. Di suatu minggu sore, Saat sedang ngopi di romen coffee dengan teman-teman yang mayoritas tidak memiliki BB. di sebelah meja kami ada tiga orang pemuda yang sedang asik mengobrol, salah satu dari mereka tiba-tiba mengambil handphone canggihnya tersebut yang terletak di atas meja lalu asik dengan sendiri memainkan jemari jempol tangannya terhadap keypad blackberry yang mungil itu dan ia sama sekali tidak memperdulikan lagi dua temannya yang sedari tadi asik berbicara. Disini saya melihat dampak sosial yang paling kontras adalah, “turunnya hubungan komunikasi antar teman, keluarga dll. Sebagai contoh, orang tua yang asik dengan gadget yang smart tersebut akan mengakibatkan perhatiannya berkurang kepada sang anak karena waktunya lebih tersita untuk berkecimpung dengan Blackberry Messenger-nya, atau pun seperti kasus yang saya lihat di warkop tadi, dimana Hubungan interaksi dengan individu yang lain tiba-tiba saja terputus akibat salah seorang malah asik berinteraksi di dunia maya. Disamping itu saya juga melihat pengguna blackberry tiba-tiba saja menjadi seseorang yang apatis / orang yang tidak peduli dengan lingkungannya juga terhadap dirinya sendiri. Sosial kontak dengan lingkungan menjadi terbatas atau kurang sama sekali, situasi ini akan mempengaruhi rasa percaya diri semangkin merosot turun.

Dengan begitu majunya tekhnologi jangan sampai membuat sisi lain yang lebih penting terabaikan, yaa... semisal kontak sosial tadi. Kemajuan tekhnologi baiknya kita gunakan justru untuk melengkapi ilmu pengetahuan seiring proses pembelajaran menuju masyarakat modern, bukan mengukung apalagi memenjarakan nilai-nilai positif,
Karena sesungguhnya blackberry tersebut merupakan “perangkat pembantu hidup, bukan penyita hidup”. 
 Alahom hai... !!!

PERLUNYA PEMILIH YANG RASIONALISTIS


 Oleh : Putra Rizki Youlan Radhianto

Perang politik didalam masyarakat Aceh sebentar lagi akan berakhir di tanggal 9 april mendatang. Ini menjadi ajang yang sangat di tunggu-tungu masyarakat Aceh.Masyarakat Aceh  yang umum nya adalah masyarakat yang masih memegang teguh nilai-nilai keislaman dan perjuangan akan melihat sisi kandidat dengan bagaimana ia berperan dalam revolusi Aceh pra konflik dan pasca konflik dan bagaimana pengetahuannya tentang islam dan pelaksanaan syariat islam di Aceh.
Masyarakat Aceh yang juga merupakan masyarakat yang simbolik,dalam artian masyarakat Aceh memilih, lebih di  karenakan di dorong oleh faktor yang di anggap sebagai simbol kemegahan  atau pemersatu rakyat Aceh. Ini menyebabkan  pemilih di Aceh masih di anggap tidak rasionalistis. Akan tetapi  pemilih di Aceh lebih cenderung kepada sikap emosinal. Ini di sebabkan oleh calon pemilih di Aceh yang rata-rata adalah para kaum yang tidak terpelajar atau memiliki riwayat pendidikan yang rendah. Dimana kaum ini hanya menuntut ilmu hanya sampai jenjang SMP,SMA bahkan putus sekolah sekali pun.para kaum ini akan cenderung memilih pemimpin yang cenderung identik dengan perjuangan atau simbol-simbol yang di tampilkannya. Tetapi  bukan karena mereka memiliki kemampuan dan  pemahaman-pemahaman tentang konsep-konsep pembangunan atau pemberdayaan masyarakat baik di bidang ekonomi,pendidikan, dan kesehatan.
Oleh sebab itu perang politik di Aceh bukan lah sebuah perang politik yang murni karena pemilih nya memilih kandidat yang mampu menjangkau segala aspek dalam masyarakat tetapi melain karena factor-faktor simbolik bahkan factor premodialisme.
Aceh yang selama ini menjadi contoh daerah yang menganut sistem demokrasi yang cukup terbuka di Indonesia belum mampu menunjukkan sebuah sistem pemilihan yang rasionalis dan tidak di dorong oleh faktor-faktor tertentu. Hal ini sangat di sayang kan dalam pembangunan Aceh kedepan. Karena jika para kandidat terpilih nanti,adalah kandidat-kandidat yang tidak mengenal atau tidak mengerti dan memahami pola masyarakat. maka akan menimbulkan kekacauan dalam pemerintahannya.
Oleh sebab itu pemilih yang rasionalis sangat di perlukan dalam rangka membangun Aceh ke depan. Karena dengan munculnya kaum pemilih yang rasionalis maka mereka tidak memilih kandidat itu oleh simbol-simbol tertentu melainkan melihat nya dari segi kemampuan dan kepahamannya tentang masyarakat.
Oleh karena itu pada taanggal 9 april mendatang kita berharap bahwa masyarakat Aceh bisa memilih kandidat-kandidat yang memiliki potensi,baik secara jasmani maupun rohani dan tidak hanya meimiliki unsur-unsur simbolik semata. Karena dengan terpilihnya kandidat Cagub/cawagub cabup/cawabup dan calkot/cawakot mendatang akan menetukan arah Aceh kedepan. Maju kah Aceh atau terpuruk kah Aceh kedepan adalah kita sebagai rakyat yang menetukan nya,benar atau tidak kah kita dalam memilih kita akan melihat hasilnya 5 tahun kedepan. Jika gagal maka sebuah kesengsaraan akan mebayangi kita sebagai mayarakat Aceh,dan jika yang terpilih adalah pemimpin yang mampu menjangkau segala aspek dalam masyarakat Aceh maka kemakmuran dan kesejahteraan lah yang akan kita terima.
Semoga pengalaman kegagalan masa lalu bisa menjadi sebuah tolak ukur para pemilih untuk memilih kandidat cagub dan cawagub juga cabub-cawabup atau calkot -cawalkot untuk menetukan pilihan yang tepat. Karena dampak nya akan kita rasakan bersama nanti. Kita berharap Aceh kedepan adalah Aceh baru, Aceh yang menjadi gerbang dunia, Aceh yang bermartabat dan memiliki nilai jual yang mendunia juga sebagai Aceh yang sejahtera.

Mahasiswa dan Partisipasi Politik

Oleh Ramadhan 2010
Gaung Pemilukada Aceh sudah terdengar semakin besar. 5 hari lagi masyarakat Aceh akan menentukan siapa pemimpinnya untuk 5 tahun kedepan. Para kandidatpun telah melemparkan sejumlah program-program “cet langet” mereka untuk mengambil hati masyarakat Aceh di 17 kabupaten / Kota dan Provinsi demi mendapatkan kursi empuk nomor 1 di Bumi Iskandar Muda ini. Semua mengklaim akan melakukan perubahan, namun tujuan belum pasti menjadi pemimpin yang amanah-kah atau hanya kekuasaan semata.

Pemilukada Aceh Da(may),baca : Mungkin) ?

Oleh Ramadhan 2010
Ilustrasi harian-aceh.com



Pemilukada Aceh sudah dekat. Tentunya sesudah ditunda 5 kali oleh Mahkamah Konstitusi oleh disharmonisasi hubungan Legislatif dan Eksekutif serta belum rampungnya Qanun tentang pemilukada,  atas kesepakatan dengan KIP Aceh dan KPU Aceh serta unsur terlibat lainnya, akan berlangsung serentak di 17 kabupaten/kota plus provinsi pada 9 April 2012.
Banyak media yang saya baca memberitakan bahwa Tokoh-tokoh Aceh maupun Nasional termasuk Pak Jusuf Kalla sendiri optimis Pemilukada Aceh akan berjalan da(may). Pertanyaannya “Apa ia da(may)?”

Pendidikan Bagi Generasi Aceh dalam Penyelesaian Konflik di Aceh

Oleh Iswandi (Mantan Ketua Umum HIMASIO)
Doc Atjehpost.com
Pendahuluan
Sejarah Aceh telah tercatat melalui goresan tinta perjuagan melawan penjajahan, Aceh mempunyai peradaban tinggi yang dibangun sejak berabad-abad lampau. Masa-masa gemilang dari beberapa kerajaan Islam berdaulat, seperti Kerajaan Samudera Pasai yang kemudian digantikan oleh Kerajaan Aceh Darussalam, dengan pujangga-pujanga besar dan pelabuhan-pelabuhan dagangnya yang tersohor di Selat Malaka telah tersimpan dalam lembar, Jalur strategis perdagangan dunia.

Trio Sosiologi 2007, 2008 dan 2010 gilas Ilmu Komunikasi dan Ilmu Politik di hari ke-3 Copa The FISIP

Banda Aceh, 3 Perwakilan dari Sosiologi sukses menggilas Komunikasi dan Politik setelah bertanding di Diaz Sport Center Rabu 7 Maret 2012. Sosiologi 2010 dengan mudah menaklukan Politik 01 2007 yang sehari sebelumnya menang melawan juara tahun lalu. Pasukan Anjar Cs sukses menutup laga pertandingan dengan skor 7 - 5. Sementara itu Sosiologi 2008 harus berbagi angka pada babak akhir dengan Komunikasi 2007 dan berhasil membekukan gol 5 - 4 pada laga pinalti. dan Sosiologi 2007 yang turun harus mengakui Komunikasi 2010 pada babak pertama dan sukses membalik keadaan dengan skor 5 - 4 pada akhir babak kedua dan menutup pertandingan pada hari itu.
"Kemenangan ini merupakan kemenangan kita bersama dimana perjuangan dan diterminasi yang dilakukan menjadi lecutan semangat rekan-rekan untuk mengharumkan nama Sosiologi" Ujar Ketua Himpunan Mahasiswa Sosiologi (HIMASIO) Muammar JA.
Muammar juga menambahkan ucapan terimakasih kepada "Pemain ke-6" dimana setiap yang tersampaikan juga menjadi nilai tambah semangat bagi rekan-rekan yang betanding.
Setelah kemenangan ini, Derby Sosiologi akan dilakukan pada hari Jum'at 9 Maret 2012 antara Sosiologi 2007 dengan Sosiologi 2008. "Mudah-mudahan yang terbaik akan menjadi wakil dari Sosiologi di Semifinal Copa the FISIP 2012" Ujar Alfath saat ditemui di lapangan.
dan selanjutnya Sosiologi 2010 akan bertanding melawan Politik 03 2011 pada hari yang sama dan salah satunya akan menempati semifinal juga. jangan lupa saksikan ya. mulai jam 3 siang.
(Roma)

Sosio '11 LIBAS Sosio '10 13 - 9

Blang Krueng, mahasiswa Sosiologi 2011 libas Sosiologi 2010 pada Uji Coba menghadapi Copa The FISIP 2012. Bertempat di Blang Krung Sport Center, Indra Cs mampu membobol lini pertahanan belakang dan membuka jalan untuk kemenangan ini. Manajer Sosio 2011 mengatakan ini merupakan uji coba yang ketiga kali untuk menghadapi Copa The FISIP yang akan di gelar 5 maret mendatang. " Anak2 memang sudah mempersiapkan diri dari beberapa bulan yang lalu, dan Insya Allah kami mampu mendapatkan Tropi Pertama pada ajang futsal terbesar di Fakultas FISIP Univ. Syiah Kuala.

Kongres Mahasiswa Sosiologi se-Aceh Siap digelar

Pengaruh Teknologi Terhadap Perubahan Sosial

Ilustrasi oleh satudunia.net
Latar belakang
Masyarakat dalam kehidupannya pasti mengalami perubahan. Perubahanyang terjadi bukan hanya menuju ke arah kemajuan, tetapi dapat juga menuju kearah kemunduran. Terkadang perubahan- perubahan yang terjadi berlangsung dengan cepat, sehingga membingungkan dan menimbulkan ”kejutan budaya” bagi masyarakat. Perubahan itu dapat terjadi di berbagai aspek kehidupan, seperti peralatan dan perlengkapan hidup, mata pencaharian, sistem kemasyarakatan, bahasa, kesenian, sistem pengetahuan, serta religi/keyakinan.
Di dalam buku Sosiologi Pembangunan karangan Prof. Dr. Ny. Pudjiwati Sajogyo, ditelaah ciri-ciri masyarakat yang menjadi modern, artinya mempelajari proses perubahan penting yang terjadi dalam struktur sosial negara-negara yang menjadi modern.
Dikutip beberapa ciri masyarakat modern yang dikemukakan Prof. Selo Soemardjan, antara lain:
·        tingkat pendidikan formal adalah tinggi dan merata;
·        2.kepercayaan yang kuat pada manfaat ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sarana untuk kesejahteraan masyarakat
Masyarakat tergolong-golong menurut bermacam-macam profesi serta keahlian yang dapat dipelajari dan ditingkatkan dalam lembaga pendidikan, keterampilan dan kejuruan.
          Sedangkan ciri manusia modern yang menjadi penentu modernisasi, menurut Soerjono Soekanto, antara lain:
·        manusia modern adalah orang yang bersikap terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru dan penemuan-penemuan baru;
·        siap menerima perubahan-perubahan;
·        percaya kepada keampuhan ilmu pengetahuan dan teknologi, dalam meningkatkan kesejahteraan umat manusia.
          Modernisasi tidak hanya milik masyarakat yang bermukim di daerah perkotaan saja, sekarang ini sentuhan – sentuhan modernisasi telah menjalar ke berbagai pelosok daerah, hal ini dimungkinkan dengan adanya sarana dan prasarana dibidang telekomunikasi yang amat memudahkan kehidupan manusia. Begitupun dengan masyarakat pertanian, yang umumnya identik dengan daerah pedesaan tidak luput dari euphoria akan modernisasi, masyarakat pertanian yang dulunya dianggap terbelakang dalam penyerapan dan penguasaan akan teknologi dalam berbagai bentuk kini mau tidak mau sangat membuthkan sentuhan teknologi dalam aktivitas pertanian.
          Jika dulunya masyarakat pertanian cenderung ‘kolot’ akan hal – hal yang bersifat inovatif, lain halnya dengan sekarang ketergantungan akan hal- hal yang berhubungan dengan teknologi seakan menjadi bagian hidup mereka. Sebagai contoh, untuk membeli bibit saja mereka rela dating jauh – jauh dari tempat tinggal ke toko – toko atau pusat penjualan sarana produksi (input) pertanian seperti bibit, benih, dan input lainnya seperti pupuk dan pestisida. Hal ini mengindikasikan masyarakat pertanian telah sepenuhnya dapat menerima sentuhan teknologi dalam kehidupan mereka.
          Sebuah perubahan bisa terjadi karena sebab dari dalam (intern) atau sebab dari luar (ekstern). Dalam sebuah masyarakat, perubahan sosial dan budaya bisa terjadi karena sebab dari masyarakat sendiri atau yang berasal dari luar masyarakat.
1. Sebab intern
          Merupakan sebab yang berasal dari dalam masyarakat sendiri, antara lain:
·        Dinamika penduduk, yaitu pertambahan dan penurunan jumlah penduduk. Pertambahan penduduk akan menyebabkan perubahan pada tempat tinggal. Tempat tinggal yang semula terpusat pada lingkungan kerabat akan berubah atau terpancar karena faktor pekerjaan. Berkurangnya penduduk juga akan menyebabkan perubahan sosial budaya. Contoh perubahan penduduk adalah program transmigrasi dan urbanisasi.
·        Adanya penemuan-penemuan baru yang berkembang di masyarakat, baik penemuan yang bersifat baru (discovery) ataupun penemuan baru yang bersifat menyempurnakan dari bentuk penemuan lama(invention)
·        Munculnya berbagai bentuk pertentangan(conflict) dalam masyarakat.
·        Terjadinya pemberontakan atau revolusi sehingga mampu menyulut terjadinya perubahan- perubahan besar.
2. Sebab Ekstern
          Merupakan sebab yang berasal dari dalam masyarakat sendiri, antara lain:
·        Adanya pengaruh bencana alam
·        Terjadi peperangan
·        Adanya pengaruh kebudayaan lain
Jika dilihat dari segi cepat atau lambatnya perubahan, maka perubahan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1.     Evolusi
Evolusi adalah perubahan secara lambat yang terjadi karena usaha-usaha masyarakat dalam menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan dan kondisi-kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat. Contoh perubahan evolusi adalah perubahan pada struktur masyarakat. Suatu masyarakat pada masa tertentu bentuknya sangat sederhana, namun karena masyarakat mengalami perkembangan, maka bentuk yang sederhana tersebut akan berubah menjadi kompleks.
2.     Revolusi,
 yaitu perubahan sosial mengenai unsur-unsur kehidupan atau lembaga-lembaga kemasyarakatan yang berlangsung relatif cepat. Seringkali perubahan revolusi diawali oleh munculnya konflik atau ketegangan dalam masyarakat, ketegangan-ketegangan tersebut sulit dihindari bahkan semakin berkembang dan tidak dapat dikendalikan.
Terjadinya proses revolusi memerlukan persyaratan tertentu. antara lain:
a.     Ada keinginan umum untuk mengadakan suatu perubahan.
b.     Adanya pemimpin/kelompok yang mampu memimpin masyarakat tersebut.
c.      Harus bisa memanfaatkan momentum untuk melaksanakan revolusi.

d. Harus ada tujuan gerakan yang jelas dan dapat ditunjukkan kepada rakyat.

e. Kemampuan pemimpin dalam menampung, merumuskan, serta menegaskan rasa tidak puas masyarakat dan keinginan-keinginan yang diharapkan untuk dijadikan program dan arah gerakan revolusi.
3.     Perubahan Kecil dan Perubahan Besar
Perubahan kecil adalah perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau pengaruh yang berarti bagi masyarakat. Contoh perubahan kecil adalah perubahan mode rambut atau perubahan mode pakaian.
Perubahan besar adalah perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang membawa pengaruh langsung atau pengaruh berarti bagi masyarakat. Contoh perubahan besar adalah dampak ledakan penduduk dan dampak industrialisasi bagi pola kehidupan masyarakat.
4.      Perubahan yang Direncanakan dan Tidak Direncanakan
Perubahan yang dikehendaki atau yang direncanakan merupakan perubahan yang telah diperkirakan atau direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak melakukan perubahan di masyarakat. Pihak-pihak tersebut dinamakan agent of change, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan masyarakat untuk memimpin satu atau lebih lembaga-lembaga kemasyarakatan yang bertujuan untuk mengubah suatu sistem sosial.
Perubahan yang tidak dikehendaki atau yang tidak direncanakan merupakan perubahan yang terjadi di luar jangkauan pengawasan masyarakat dan dapat menyebabkan timbulnya akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan.
ASPEK-ASPEK TEKNOLOGI
          Teknologi adalah pengetahuan yang digunakan untuk membuat barang,menyediakan jasa serta meningkatkan cara dalam menangani sumber daya yang penting dan terbatas. Pengertian lain tentang teknologi adalah upaya manusia untuk membuat kehidupan lebih sejahtera, lebih baik, lebih enak dan lebih mudah.
          Teknologi yang dikembangkan dari beragam teknologi satu diantaranya adalah Teknologi Tepat Guna (TTG) yaitu suatu teknologi yang memenuhi, persyaratan: teknis, ekomomi dan sosial budaya.
          • Teknis, yaitu memperhatikan dan menjaga tata kelestarian lingkungan hidup, penggunaan secara maksimal bahan baku lokal, menjamin mutu (kualitas) dan jumlah (kuantitas) produksi, secara teknis efektif dan efisien, mudah perawatan dan operasi, serta relatif aman dan mudah menyesuaikan terhadap perubahan.
          • Ekonomis, yaitu efektif menggunakan modal, keuntungan kembali kepada produsen, jenis usaha kooperatif yang mendorong timbul industri lokal.
          • Sosial budaya, memanfaatkan keterampilan yang sudah ada, menjamin perluasan lapangan kerja, menekan pergeseran tenaga kerja, menghidari konflik sosial budaya dan meningkatkan pendapatan yang merata

CONTOH PENERAPAN TEKNOLOGI YANG MENYEBABKAN PERUBAHAN SOSIAL PADA MASYARAKAT
Pembangunan yang telah dilakukan di setiap desa-desa yang ada di wilayah Indonesia, utamanya pada masyarakat petani saat ini. Bentuk penerapan teknologi tepat guna dalam pertanian dan perubahan sosial masyarakat petani merupakan implementasi dari pembangunan yang dilakukan di negara-negara berkembang seperti di Indonesia.
Penerapan teknologi tepat guna dalam pertanian dan perubahan sosial masyarakat petani telah menciptakan cara dan sikap masyarakat petani dalam melakukan proses produksi pertanian. Secara tegas dikatakan bahwa teknologi tepat guna dalam pertanian yang diperkenalkan dipedesaan Jawa lebih banyak mengandalkan masukan modern dan membatasi tenaga kerja. Hanya saja pada masa selanjutnya, hal ini berbanding berbalik, yakni penerapan teknologi tepat guna dalam pertanian semakin menambah kesempatan kerja, utamanya bagi kaum buruh tani. Bentuk lain dari hasil analisa mengenai cara dan sikap masyarakat petani ini adalah bahwa teknologi meningkatkan alternatif kita, penerapan teknologi tepat guna dalam pertanian membawa cita-cita yang sebelumnya tak dapat dicapai ke dalam alam kemungkinan dan dapat mengubah kekuasaan relatif atau memudahkan menyadari nilai-nilai berbeda.
Penerapan teknologi tepat guna dalam pertanian saat ini telah mampu membentuk alternatif-alternatif baru bagi masyarakat petani dalam melakukan proses produksi pertanian, serta menjadikan masyarakat petani untuk dapat selalu mengkondisikan alam.
          Bila memperhatikan ciri-ciri masyarakat Indonesia, yaitu tingkat pendidikan formal yang kurang merata, kepercayaan yang kurang kuat pada teknologi sebagai sarana untuk kesejahteraan masyarakat, banyaknya golongan profesi di masyarakat, serta kesiapan menerima perubahan-perubahan, khusus pemanfaatan teknologi baru, dalam meningkatkan kesejahteraannya, menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sangat lamban untuk disebut sebagai masyarakat modern, khususnya masyarakat di daerah tertinggal dan daerah terbatas. Pengertian masyarakat di daerah tertinggal dan terbatas adalah masyarakat di wilayah/provinsi yang kurang memanfaatkan teknologi tepat guna untuk memajukan daerahnya, sehingga selalu mengalami krisis pangan dan sulit serta mahalnya layanan transportasi darat, laut maupun udara, sehingga kurang terjangkau informasi teknologi

Pengaruh Perubahan Sosial Terhadap Masyarakat Pedesaan

Ilustrasi Oleh atamarenaperdana93.blogspot.com
Perjalanan proses pembangunan tak selamanya mampu meberikan hasil sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat di pedesaan. Pembangunan yang dilakukan di masyarakat desa akan menimbulkan dampak social dan budaya bagi masyarakat. Pendapat ini pada berlandaskan pada asumsi pembangunan itu adalah proses perubahan (sosial dan budaya). Selain itu masyarakat pedesaan tidak dapat dilepaskan dari unsure- unsur pokok pembangunan itu sendiri, seperti teknologi dan birokrasi.
Tekhnologi dan birokrasi merupakan perangkat canggih pembangunan namun dilain sisi perangkat tersebut berhadapan dengan masyarakat pedesaan yang masih tradisional dengan segala kekhasannya. Apalagi jika unsur-unsur pokok tersebut langsung diterapkan tanpa mempertimbangkan aspek sosial, budaya, agama dan lain-lain, maka jangan harap pembangunan akan berhasil. Pihak birokrasi akan sangat memerlukan usaha yang sangat ekstra jika pola kebijakan yang dikeluarkan tidak tepat sasaran dan tidak berlandaskan pada kebutuhan masyarakat khususnya di pedesaan.
Indonesia merupakan Negara yang kaya dengan sumberdaya alamnya dan sebagian besar dimanfaatkan sebagai lahan agrarian. Tak salah jika kemudian kurang lebih enampuluh persen penduduknya berkecimpung di dunia pertanian dan umumnya berada di pedesaan. Dengan demikian, masyarakat desa yang agraris menjadi sasaran utama introduksi tekhnologi segala kepentingan, kemajuan pertanian sangat melibatkan unsur-unsur poko tersebut. Oleh sebab itu, masyarakat agrarislah yang pertama menderita perubahan sosial.
Namun tetap perlu diperhatikan bahwa setiap masyarakat mempunyai “ego”nya dalam segala bidang termasuk aspek tekhnologi dan kebijakan birokrasi. Perubahan yang diharapkan dengan mengintroduksi tekhnologi seharusnya sesuai dengan apa yang menjadi ego masyarakat tersebut, sehingga pola perubahan dapat diterima oleh masyarakat. Karena setiap kebijakan dan introduksi tekhnologi yang diberikan pada masyarakat agraris di pedaesaan akan memberikan dampak perubahan sosial yang multi dimensional.
Pelaksanaan kebijakan teknologi pertanian mempunyai jalinan yang sangat kuat dengan aspek-aspek lainnya. Jika kita perincikan dimensi-dimensi perubahan tersebut, maka akan terlihat sangat nyata terjadi perubahan dalam struktur, kultur dan interaksional. Perubahan sosial dalam tiga dimensi ini, kalau dibiarkan terus akan merusak tatanan sosial masyarakat desa. Maka dari itu sangat dibutuhkan kajian yang sangat mendalam untuk mencegah dampak negatif dari kebijakan birokrasi dan asupan teknologi yang mengiringinya terhadap masyarakat dan aparat yang menjalaninya.
II. 1. Teori Perubahan Sosial
Pengelompokkan teori perubahan sosial telah dilakukan oleh Strasser dan Randall. Perubahan sosial dapat dilihat dari empat teori, yaitu teori kemunculan diktator dan demokrasi, teori perilaku kolektif,  
II.1.1. Teori Diktator
Teori yang disampaikan oleh Barrington Moore ini berusaha menjelaskan pentingnya faktor struktural dibalik sejarah perubahan yang terjadi pada negara-negara maju. Negara-negara maju yang dianalisis oleh Moore adalah negara yang telah berhasil melakukan transformasi dari negara berbasis pertanian menuju negara industri modern. Secara garis besar proses transformasi pada negara-negara maju ini melalui tiga pola, yaitu demokrasi, fasisme dan komunisme.
Demokrasi merupakan suatu bentuk tatanan politik yang dihasilkan oleh revolusi oleh kaum borjuis. Pembangunan ekonomi pada negara dengan tatanan politik demokrasi hanya dilakukan oleh kaum borjuis yang terdiri dari kelas atas dan kaum tuan tanah.
Masyarakat petani atau kelas bawah hanya dipandang sebagai kelompok pendukung saja, bahkan seringkali kelompok bawah ini menjadi korban dari pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh negara tersebut. Terdapat pula gejala penhancuran kelompok masyarakat bawah melalui revolusi atau perang sipil. Negara yang mengambil jalan demokrasi dalam proses transformasinya adalah Inggris, Perancis dan Amerika Serikat.
Berbeda halnya demokrasi, fasisme dapat berjalan melalui revolusi konserfatif yang dilakukan oleh elit konservatif dan kelas menengah. Koalisi antara kedua kelas ini yang memimpin masyarakat kelas bawah baik di perkotaan maupun perdesaan. Negara yang memilih jalan fasisme menganggap demokrasi atau revolusi oleh kelompok borjuis sebagai gerakan yang rapuh dan mudah dikalahkan. Jepang dan Jerman merupakan contoh dari negara yang mengambil jalan fasisme.
Komunisme lahir melalui revolusi kaun proletar sebagai akibat ketidakpuasan atas usaha eksploitatif yang dilakukan oleh kaum feodal dan borjuis. Perjuangan kelas yang digambarkan oleh Marx merupakan suatu bentuk perkembangan yang akan berakhir pada kemenangan kelas proletar yang selanjutnya akan mwujudkan masyarakat tanpa kelas. Perkembangan masyarakat oleh Marx digambarkan sebagai bentuk linear yang mengacu kepada hubungan moda produksi. Berawal dari bentuk masyarakat primitif (primitive communism) kemudian berakhir pada masyarakat modern tanpa kelas (scientific communism). Tahap yang harus dilewati antara lain, tahap masyarakat feodal dan tahap masyarakat borjuis. Marx menggambarkan bahwa dunia masih pada tahap masyarakat borjuis sehingga untuk mencapai tahap “kesempurnaan” perkembangan perlu dilakukan revolusi oleh kaum proletar. Revolusi ini akan mampu merebut semua faktor produksi dan pada akhirnya mampu menumbangkan kaum borjuis sehingga akan terwujud masyarakat tanpa kelas. Negara yang menggunakan komunisme dalam proses transformasinya adalah Cina dan Rusia.
II.1.2. Teori Perilaku Kolektif
Teori perilaku kolektif mencoba menjelaskan tentang kemunculan aksi sosial. Aksi sosial merupakan sebuah gejala aksi bersama yang ditujukan untuk merubah norma dan nilai dalam jangka waktu yang panjang. Pada sistem sosial seringkali dijumpai ketegangan baik dari dalam sistem atau luar sistem. Ketegangan ini dapat berwujud konflik status sebagai hasil dari diferensiasi struktur sosial yang ada. Teori ini melihat ketegangan sebagai variabel antara yang menghubungkan antara hubungan antar individu seperti peran dan struktur organisasi dengan perubahan sosial.
Perubahan pola hubungan antar individu menyebabkan adanya ketegangan sosial yang dapat berupa kompetisi atau konflik bahkan konflik terbuka atau kekerasan. Kompetisi atau konflik inilah yang mengakibatkan adanya perubahan melalui aksi sosial bersama untuk merubah norma dan nilai.

Aceh Menuju Pembangunan Berwawasan Lingkungan dan Etnis

Studi Sosiologi
Ilustrasi oleh Antarafoto.com
              1.    LATAR BELAKANG
Aceh sebagai bagian dari wilayah territorial Negara Indonesia yang tergolong sebagi Negara sedang berkembang atau negara ke tiga sedang menuju ke pembangunan di segala dektor apalagi  aceh setelah mengalami bencana tsunami pada tahun 2004 yag telah menghancurkan segala sendi masyarakat aceh,setelah 6 tahun berlalu pemerintah aceh yang dipimpin irwandi-nazar mulai berbenah untuk membangun kembali aceh salah satunya pembangunan dalam bidang ekonomi dan lingkungan, sala satunya dalah mencanangkan  program Aceh green  dan penghentian tebang hutan (illegal logging). serta pembangunan etnis (ethnodevelopment) yang mendapat perhatian serius dari pemerinthan aceh dengan membentuk atau merancang qanun Wali nanggroe yang bertujuan sebagi suatu lembaga sosial dan adat budaya sekaligus pemersatu  rakyat aceh, program ini sebenarnya tindak lanjut dari keprihatinan tetang semakin memudarnya nilai-nilai adat budaya Aceh yang berimbas pada pola kehidupan rakyat Aceh.
Strategi pembangunan dewasa ini yang masih berorientasi pada pembangunan dalam bidang material seringkali mengabaikan faktor manusia dan lingkungan,memang pembangunan masih didominasi oleh ahli ekonmi yang juga membicarakan masalah manusia atau SDM tetapi pembicaraan manusia disini lebih menekankan aspek keterampilan,manusia lebih dianggap sebagai factor produksi, namun kurang membicarakan masalah kondisi lingkungan  ,baik lingkungan politik maupun lingkungan budaya yang akan menghasilkan lahirnya individu yang kreatif.proses-proses  yang terjadi dalam diri individu yang memungkinkan terjadinya manusia kreatif juga kurang dibicarakan.
 Pembangunan memang harus ditujukan pada pembangunan manusia, manusia yang dibangun adalah manusia yang kreatif  agar kreatif manusia tersebut harus terbebas dari dari rasa takut dan harus merasa bahagia dan aman,yang pada akhirnya melahirkan manusia-manusia yang membangun yag punya inisiatif dan dapat memecahkan bermacam persoalan[1].

KERANGKA KONSEPTUAL

            Pembangunan berwawasan etnis dan lingkungan tidak akan terlaksana dengan baik apabila  pemikiran masyarakat yang masih tradisional oleh karena itu masyarakat tersebut harus berpikiran maju atau modern
            ALEX INKELES Dan DAVID H SMITH dalam bukunya becoming modern kedua tokoh terbut mencoba memberikan cirri-iri manusia modern yang dimaksud antara lain :
1.      Keterbukaan terhadap pengalaman dan ide baru
2.       Berorientasi kemasa sekarang dan masa depan
3.      Punya kesanggupan merencanakan
4.       Percaya bahwa manusia bisa menguasai alam dan bukan sebaliknya[2]
            Menurut alex inkeles manusia bisa diubah secara mendasar setelah dia menjadi dewasa,dan karena itu tidak ada manusia yang tetap menjadi manusia tradisonal hanya karena dia dibesarkan dalam sebuah masyarakat tradisional, artinya dengan memberikan lingkugan yang tepat setiap orang bisa diubah menjadi manusia modern setelah dia mencapai usia dewasa
Dari pernyataan tersebut apakah masyarakat aceh telah memenuhi kriteria  yang di syaratkan oleh kedua tokoh tersebut?
kriteria pertama yang yang dikemukakan oleh Alex inkeles adalah
 keterbukaan terhadap pengalaman dan ide baru
Setelah gempa dan tsunami menerjang daratan pesisir aceh,kini Aceh telah menjelam sebagai daerah yang terbuka untuk segala orang,apalagi pada nasa pasca bencana yang dapat dilihat dari banyaknya relawan dan donator serta NGO asing maupun lokal yang berdatangan untuk ikut serta dalam masa pemulihan dan pembangunan kembali Aceh pasca bencana,hal tersebut juga berdampak pada datangnya ide-ide baru yang didasarkan pada pengalaman para relawan serta lembaga-lembaga tersebut dalam menangani daerah pasca bencana lain.
Seringkali, masyarakat belum siap untuk menerima ide-ide baru yang ditawarkan, seperti program pemerintah aceh untuk mengadakan pelatihan kepada 800 guru dari berbagai kabupaten/ kota di aceh tentang Fahmul Quran di komplek yayasan fajar hidayah Desa Mon Raya, kecamatan Blang Bintang Aceh Besar yag berakhir rusuh[3] insiden tersebut diawali oleh kecurigaan masyarakat sekitar tentang adanya ajaran menyimpang yang di paparkan para tutor dalam pelatihan tersebut yang menggunakan potongan tulisan arab sebagai medianya,
Sebenarnya pelatihan tersebut menyajikan metode belajar terbaru yang memadukan teknik belajar aktif dan menyenangkan yang akan diterapkan oleh peserta pelatihan di masing-masing sekolah[4]. Namun teknik pengajaran yang sebenarnya ditujukan untuk mendongkrak keaktifan siswa tersebut disalah pahami oleh masyarakat sekitar yang hanya mendengar isu-isu  yang tidak benar. sehingga massa yang diperkirakan rtusan orang tersebut menyerbu dan merusak fasilitas lembaga tersebut yang menyebabkan terhentinya kegiatan yang rencananya dilaksanakan selama 15 hari.[5]
Dari peristiwa tersebut dapat kita simpulkan bahwa sebagian masyarakat belum dapat menerima ide-ide dan pengalaman baru yang dianggap bertentangan dengan ajaran yang mereka anut,serta  tanpa menyelidiki terlebih dahulu kebenaran dari isu yang berkembang tersebut..dan itu tidak termasuk cirri-ciri manusia modern seperti yang dipaparkan oleh Alex inkeles dan David H Smith.

Kriteria ke 2 adalah berorientasi ke masa sekarang dan masa depan

Pemerintah Aceh yang dipimpin oleh Irwandi-Nazar   dan pihak legeslatif saat ini sedang membahas rancangan Qanun tentang wali nanggroe [6] merupakan implementasi dari   keprihatinan bersama akan semakin memudarnya adat istiadat di aceh, dan Qanun wali nanggroe ini terlepas dari kepentingan politik, Merupakan sarana pemelihara dan pemersatu adat budaya dan figure pemersatu rakyat[7]
Dan diharapkan lembaga Wali Nanggroe yang akan dibentuk itu menjadi alat pemersatu,bukan malah menimbulkan perpecahan diklangan masyarakat aceh[8]  apalagi aceh yang terdiri dari suku bangsa yang majemuk dan memiliki tata cara dalam adat budaya yang sangat berbeda,dengan demikian pembangunan yang akan diterapkan di daerah aceh dapat menjangkau seluruh suku dan etnis yang ada di selurah Aceh sehingga terhindar dari konflik etnis seperti yang pernah terjadi di Pakistan antara etnis Pathan dan Mohajir, etnis Hindu dan Muslim di Kashmir dan Andhra Pradesh [9]dll.
Pemerintah aceh mencoba untuk mengadopsi tata cara kehidupan Aceh masa dulu yang pernah mengalami masa kejayaannya di bawah pemerinthan Sultan Iskandar Muda, walaupun tidak terlalu sesuai dengan peryataan Alex Inkeles: Berorientasi kemasa sekarang dan masa depan. namun pengadopsian tata cara kehidupan masyarakat tempoe dulu yang terbukti berhasil dan mensejahterakan masyarakat pada waktu itu.
Tidak ada salahnya mengadopsikan warisan masa lalu untuk di terapkan pada masa sekarang yang akan berdampak baik pada masa depan/ generasi masa yang akan datang.
Yang paling penting adalah suatu pembangunan tidak akan berjalan dengan baik apabila tidak disertai dengan pembangunan yang disinergikan dengan pengelolaan kondisi alam yang sesuai dengan kaedah alam serta dibarengi dengan pembangunan yang berwawasan etnis agar hasil dari pembangunan itu sendiri dapat dinikmati oleh setiap orang yang berada dalam Negara tersebut.



Dengan demikian pembangunan tidak hanya fokus pada “bentuk”dari pembangunan itu tapi juga pada “isi dari pembangunan tersebut.
            Strategi pembangunan ini disebut dengan pembangunan lain
( Another development )
another development harus didefinisikan sebagai

1                    Berorientasi pada kebutuhan manusia
2                    Bersifat endogen
3                    Bersifat mandiri
4                    Secara ekologis baik ( memanfaatkan secara rasional sumber daya lingkungan hidup )
5                    Berdasarkan tranformasi Struktural.
Tanpa tranformasi structural tujuan diatas tidak akan tercapai[10]
















Kesimpulan

Stategi pembangunan yang masih berkutat dalam permsalahan bagaimana meningkatkan perekonomian yang pada akhirnya akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat, seringkali melupakan aspek lain yang tak kalahpentingnya yaitu bagimana mambentuk manusia yang berpikiran modern dan lingkugan yang akan membentuk kepribadian membangun yang pada akhirnya akan melahirkan individu-individu yang kreatif serta menjadikan pembangunan itu semakin sempurna
Pembangunan lingkungan ( Ecodevelopment ) memegang peranan penting dalam menentukan maju atau berhasil tidaknya suatu pembangunan tersebut, tidak akan ada gunanya apabila tingkat perekonomian suatu Negara yang tinggi tapi kondisi alamnya yang rusak.
Karena apabila kita berbicara masalah pembangunan maka otomatis pemabangunan itu berbicara tentang 25 atau 30 tahun sebagai perencanaan jangka panjang,dan tentu saja ini menyangkut tentang generasi yang akan datang.

Pembangunan Etnis ( Ethnodevelopment ) juga merupakan salah satu poin penting dalam proses pembangunan.
Seringkali etnis yang berada dalam wilayah yang mengalami pembangunan tidak mendapat perhatian,kalaupun ada maka hasil pembangunan itu hanya dinikmati oleh segelintir orang/elit dan bukan oleh masyarakat yang membutuhkan.
Dan pembangunan tidak selalu berarti “bentuk” tetapi juga “isi” kedua-duanya harus mendapat porsi yang seimbang
Itulah mengapa pembangunan itu harus memperhatikan aspek etnis atau “isi” dari pembangunan itu dan bukan hanya melihat “bentuk” dari pembangunan tersebut.
Sehingga pembangunan yang akan dijalankan akan memadukan faktor kondisi lingkungan dan faktor  peranan etnis sebagai isi atau bagian dari pembangunan itu sendiri


DAFTAR ISI

1.      Budiman, Arief (1995): Teori Pembangunan Dunia Ketiga, Jakarta,P.T. Gramedia  Pustaka Utama
2.      Budiman, Arief (1995): Teori Pembangunan Dunia Ketiga, Jakarta,P.T. Gramedia  Pustaka Utama
3.      Serambi Indonesia Edisi  Sabtu 27 November 2010
4.      Wawancara dengan salah seorang peserta pelatihan 1 Desember 2010
5.      Serambi Indonesia edisi Sabtu 27 November 2010
6.      Draf Rancangan Qanun Wali Nanggroe 2010
7.      DR M Saleh Sjafei,Diskusi publik, Aula Fak Hukum Unsyiah, 23 Desember 2010
8.      Bjorn, Hettne, Teori Pembangunan Dan Tiga Dunia
9.      Bjorn, Hettne, Teori Pembangunan Dan Tiga Dunia



















[1] Dr arief budiman,teori pembangunan dunia ketiga hal 14
[2] Dr arief budiman,teori pembangunan dunia ketiga hal 35


[3] Serambi Indonesia edisi sabtu 27 november 2010
[4] Wawancara dengan  salah seorang peserta pelatihan, 1 desember 2010
[5] Serambi Indonesia edisi sabtu 27 november 2010

[7] Rancangan Qanun Aceh tahun 2010 tentang wali nanggroe
[8] DR M Saleh Sjafei, Diskusi public di aula fak hukum Unsyiah,23 des 2010
[9] Bjorn Hettne, Teori Pembangunan Dan Tiga Dunia, hal 343
[10] Bjorn Hettne, Teori Pembangunan Dan Tiga Dunia, hal 275